(Masih) PSBB Untuk Anak

Pandemi COVID-19 kali ini dampaknya memang sangat besar. Semua sendi-sendi kehidupan, baik sosial dan ekonomi turut merasakan dahsyatnya efek dari virus kecil ini.

Sudah hampir 3 bulan sejak awal masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang ditetapkan pemerintah. Mulai akhir Maret 2020 lalu, kegiatan perkantoran, perkuliahan, perdagangan, dan belajar mengajar di sekolah mulai dihentikan, dan diganti dengan kegiatan di rumah saja.

Walaupun banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan di rumah, tetap saja, 3 bulan itu waktu yang cukup lama. Jujur saya, kita orang dewasa saja pastinya merasa bosan terus-menerus berkegiatan dirumah. Apalagi anak-anak kita.

Kita orang dewasa masih bisa menikmati hari dengan secangkir kopi, rokok, dan TV yang menyala, atau komputer yang terkoneksi dengan internet. Tapi anak-anak, biasanya mereka cenderung lebih cepat bosan, dan butuh interaksi sosial dengan anak-anak lain sebayanya, atau menjelajah dunia luar sana.

Pada 15 Juni 2020 lalu, pemerintah mulai “melonggarkan” masa PSBB di kota ini. PSBB Transisi istilahnya. Kegiatan perkantoran dan perdagangan mulai kembali dibuka. Dan 20 Juni kemarin, kegiatan wisata juga mulai dibuka, dengan syarat tertentu dan tetap menjalankan protokol kesehatan ketat.

Tapi, setelah mencari-cari informasi, rupanya banyak tempat yang melarang pengunjung membawa anak-anak dan lanjut usia. Alasan logisnya, mereka mencoba melindungi lapisan masyarakat yang masih rentan terhadap penyakit ini (anak-anak dan lansia)

hmm.. entahlah ya, menurut saya, tempat wisata tanpa anak-anak itu bagaikan sayur tanpa garam.. Justru alasan utama kita sebagai orang tua pergi ke tempat wisata adalah ingin mengajak anak kita. Mengajak mereka jalan, pergi keluar dan mempelajari sesuatu. Terutama anak dibawah 10 tahun. Kalau anak diatas 10 tahun, jaman now mah, sudah pasti mabar dengan perangkat telepon mereka.

Bukan saya gatal ingin jalan-jalan atau apa. Tapi akui saja, nyatanya anak-anak kita sudah bosan di rumah saja, mereka pun butuh refreshing, dan refreshing mereka tidak bisa dengan secangkir kopi, rokok, dan komputer. Mereka butuh lebih dari itu.

Pelonggaran PSBB awalnya menjadi angin segar untuk menghidupkan roda ekonomi dan sosial masyarakat. Tapi pada akhirnya masih menjadi PSBB tersendiri untuk anak-anak. Nyatanya anak-anak masih dibatasi kegiatan sosialnya. Toh, salah satu kegiatan interaksi sosial anak-anak pun masih libur bukan? Sekolah..

Bukan saya meremehkan pandemi ini, tetapi buat saya kebijakan-kebijakan itu terasa sangat janggal. Terasa setengah hati. Tempat wisata yang dibuka tanpa anak-anak buat saya terlalu dipaksakan. Buat apa berwisata tanpa anak? Sudah pasti tempat wisata akan diisi remaja-remaja tanggung berpacaran.

PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar masih “berlaku” untuk anak-anak kita. Mereka masih harus bersabar menunggu di rumah. Sekolah mereka masih diliburkan, wisata mereka juga masih dilarang.

Dan pada akhirnya, kita sebagai orang tua juga harus terus bersabar untuk memberikan pengertian kepada anak kita, tentang mengapa mereka harus di rumah, mengapa orang tuanya sudah harus bekerja setiap hari memakai masker, mengapa diluar sana sudah mulai ramai orang pergi ke mall, taman kota, dan kebun binatang, tapi anak-anak tidak boleh masuk.

Semua demi kesehatan dan keselamatan mereka. Tapi jangan lupa, psikologis mereka adalah kesehatan mereka juga.

Zaldy