Masih dalam situasi ini..

30 Maret 2020, Sedikit update situasi..

Sudah 2 minggu lebih sejak himbauan pemerintah untuk bekerja dirumah. Wabah COVID-19 ini pun sepertinya masih terus berlanjut. Sampai tulisan ini dibuat, ada 1.414 kasus positif COVID-19 di Indonesia (sumber)

Pembatasan sosial, atau social distancing dan physical distancing pun dinilai belum terlalu maksimal. Mungkin salah satu faktor utamanya karena roda ekonomi terus (dan harus) berputar, terutama pada masyarakat menengah kebawah.

Masyarakat yang berprofesi di sektor informal dan mengandalkan penghasilan harian seperti tukang ojek, supir, pedagang kaki lima, dan profesi lain sudah banyak terkena dampak akibat pendapatan yang menurun. Mereka tidak punya pilihan lain selain harus terus bekerja, dan berpotensi terpapar virus ini.

Sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak pun seperti perbankan, utilitas publik (listik, telepon, operator seluler, BBM) dan arus logistik seperti kurir pun mau tidak mau harus terus berjalan. Lagipula, siapa yang akan mengantarkan kebutuhan pokok masyarakat, siapa yang akan mengantar bensin, menjaga agar listrik, telepon, dan koneksi terus aktif, dan sebagainya. Belum lagi tenaga medis yang terus bejibaku merawat pasien dan beresiko paling tinggi terpapar COVID-19 ini.

Semua itu membuat anjuran social distancing dan work from home menjadi kurang efektif. Memang tidak bisa dipungkiri, masih banyak juga masyarakat yang keluar rumah, kumpul-kumpul yang tidak perlu. Pihak berwenang terus menghimbau dan mencoba membubarkan kerumunan massa yang tidak perlu.

Ditambah lagi, roda ekonomi yang melambat di Ibukota membuat banyak perantau memutuskan untuk mudik dan kembali ke kampung halamannya (sumber) Tentunya ini menjadi masalah baru, karena pemudik ini berpotensi menjadi carrier dan menularkan virus ini ke keluarganya dan lingkungan di kampung halamannya.

Tapi mungkin buat mereka juga dilematis, sementara pekerjaan dan pendapatannya di Ibukota berkurang atau bahkan tidak ada, dan keluarga mereka ada di kampung halaman, maka keputusan logis mereka adalah dengan pulang kampung. Walau itu sangat beresiko.

Ditengah semua itu, beberapa pemerintah daerah dan masyarakat sudah mulai mengambil inisiatif sendiri dan mengisolasi wilayahnya (sumber) dengan membatasi akses keluar masuk orang kedalam wilayahnya.

Tentunya, kebijakan karantina dan isolasi wilayah ini juga harus dipikirkan matang-matang. Karena sekali lagi, membatasi arus orang keluar masuk, juga mungkin akan membatasi perputaran roda ekonomi.

Bagi orang yang setuju dengan pilihan lockdown atau isolasi, mungkin akan beropini, pilih nyawa atau ekonomi. Penyebaran virus ini sudah sangat masif, jika tidak dilakukan lockdown atau minimal karantina wilayah, maka virus ini masih akan terus menyebar.

Dan bagi orang yang tidak setuju dengan pilihan lockdown akan beralasan lockdown akan berdampak besar pada kehidupan sosial dan ekonomi. Ekonomi akan lumpuh, kehidupan sosial juga bukan tidak mungkin akan kacau, seperti yang terjadi di India (sumber)

Pemerintah sendiri telah mengumumkan pembatasan sosial lebih ketat dalam skala besar, dan opsi darurat sipil jika keadaan makin memburuk (sumber)

Apapun itu, kita berharap agar pemerintah dapat mengambil keputusan dengan tepat, karena secara statistik, wabah ini masih terus meningkat penyebarannya. Dan biasanya, situasi yang ekstrim membutuhkan tindakan yang ekstrim juga.

Toh, wabah ini sudah memporak-porandakan kehidupan sosial-ekonomi seluruh dunia, termasuk Indonesia. Jadi menurut saya, apapun keputusan yang diambil pemerintah, semua harus cepat, tepat, dan tegas (dan mungkin “ekstrim” dalam tanda kutip)

Kita sebagai warga negara yang baik juga harus terus waspada, jangan panik, sembari terus menjalankan pembatasan sosial, jaga kebersihan dan kesehatan diri, jangan pergi atau berkumpul yang tidak diperlukan.


Sedikit kekhawatiran saya..

Saya pribadi mempunyai sedikit concern atau pikiran. Dikala kantor tempat saya bekerja sudah diliburkan dari tanggal 12 Maret 2020 lalu (sampai 13 April mendatang), kantor istri saya tidak libur total. Kantor istri memberlakukan jadwal piket sehari masuk sehari libur.

Tetap saja, itu menjadi pikiran dan kekhawatiran sendiri bagi saya. Dikala saya ingin semua anggota keluarga dirumah saja, ada hari-hari dimana istri masuk kantor, dan kami harus bepergian keluar rumah.

Ya, istrinya saja yang berangkat, masnya dan anak dirumah saja, ya kan? mungkin begitu pikiran anda setelah membaca penjelasan saya diatas. Tidak semudah itu. Jadi begini, Rudolfo, kegiatan kami saat hari kerja (jika tidak ada wabah virus Corona) adalah pagi kami berangkat, pertama mengantarkan Freya ke rumah neneknya (dititip), lalu saya mengantarkan istri ke kantor, dan terakhir saya menuju kantor. Saat pulang, semua hanya dibalik. Pertama saya jemput istri, lalu kami jemput Freya, dan pulang.

Tapi jika saya libur dan istri masuk, maka pilihannya ada 2: Pilihan pertama saya dan anak ikut mengantar jemput istri (dengan resiko anak dibawa serta dan lelah di perjalanan), atau pilihan kedua anak tetap dititip ke neneknya, sementara saya antar-jemput seperti biasa (saya jadi “luntang-lantung” karena tidak ngantor, mungkin pulang sendirian, dan harus bolak-balik antar jemput)

Naik angkutan umum? lokasi kediaman kami yang cukup jauh akses dari jalan raya, juga jarak yang jauh ke kantor membuat opsi angkutan umum menjadi tidak efisien. Selain harus berganti-ganti angkutan umum, biaya dan waktu yang dikeluarkan jika naik angkutan umum juga sangat besar. Ojek online pun sekali perjalanan bisa puluhan ribu (sekitar Rp 50 ribu sekali perjalanan) Jadi angkutan umum tidak menjadi pilihan dalam situasi ini.

Apapun itu, terlebih di masa pandemi Corona seperti ini, ada anggota keluarga yang bepergian sangat mengganggu pikiran saya. Di saat kami berusaha untuk menerapkan social distancing dan bekerja dirumah.

Yang jelas, saya berharap agar wabah dan situasi ini cepat berlalu. Wabah ini telah memberikan dampak yang besar bagi kehidupan kami juga. Sudah 2 minggu kami dirumah saja (dengan pengecualian ketika istri kerja). Freya pun terkadang merasa mati gaya dan bosan dirumah. Kami harus terus memutar otak agar dia tetap terhibur dengan mengajak main, belajar, dan jajan. Ya, otomatis pengeluaran kami dirumah pun ikut melonjak.

Mungkin sekian dulu unek-unek saya yang bisa dituangkan di tulisan ini. Sekali lagi, mari kita semua bersatu menghadapi wabah virus ini, tetap waspada, jaga jarak, jaga kebersihan. Stay safe!

Zaldy
30 Maret 2020